Archive for December, 2007

Konsepsi Kesuksesan(Sebuah Subjektivitas Perenungan)

Thursday, December 27th, 2007

Terheran…

Banyak orang berlomba mengejar harta ataupun tahta ataupun popularitas ataupun perhiasan dunia lainnya dan menjadikannya anak tangga mencapai puncak definisi dari kesuksesan, yang mereka harapkan mampu membawa hati mereka pada keabadian kebahagiaan.Namun banyak dari mereka yang akhirnya kecewa karena tak mampu mengecap manisnya hakikat kesuksesan.Kegelisahan,keresahan dan penderitaan yang ternyata mereka dapatkan.Kebahagiaan yang menjadi tujuan bukanlah keabadian,fatamorgana ditengah sengatan terik gersangnya padang pasir.Seperti gersang dan panas teriknya hati mereka.Hampa tak bermakna.

Namun penderitaan yang berbeda, yang dirasakan para nafas penolak pemujaan terhadap dunia,telah mengantar mereka menemukan konsepsi yang berbeda tentang kesuksesan hakiki.Yang ternyata mampu membuat mereka menemukan keabadian kebahagiaan.Penderitaan yang terasa karena penolakan terhadap kenikmatan dunia telah memaksa mereka fokus mencari sumber mata air kebahagiaan lainnya.Yang pada akhirnya menjadi anak tangga dalam mendekatkan diri kepada Sang Sumber dari segala sumber mata air kebahagiaan abadi.

Amat beratnya godaan keduniawian memunculkan beratnya penderitaan,yang sangat efektif untuk mendekatkan hati mereka kepada Sumber Kebahagiaan,yang pada akhirnya membawa mereka mencapai puncak dari konsepsi kesuksesan hakiki. Disinilah mereka merasa telah memiliki "harta" yang tak terkira harganya dibandingkan dengan segala intan permata dunia.Inilah kekayaan hakiki bagi mereka yang totalitas mengabdikan diri kepada Sang Sumber Kebahagiaan Abadi.

La Ode

Saturday, December 15th, 2007

Begitu halus tutur katamu seolah lagu termerdu.

Begitu indah bunga akhlakmu.

Diatas karya sulam itu.

Tampilkan kebajikan seorang ibu.

Dengarlah detak jantung anakmu.

Yang kau tanam dirahimmu dulu.

Seakan pasrah menerima semua warna yang engkau punya.

Segala rasa yang engkau bina.

Kuharapkan pada Tuhanku balasan dari kesungguhanmu.

Kaitkan jiwa bagai karya sulam itu.

Kuharapkan balasan dari keikhlasanmu.

Sirami benih yang kau tabur dalam jiwaku.

Jelas,rakit pagar maikn kuat .

Tak goyah walau terusik unggas.

Kutahu pintamu pada Tuhan Mulia .

Agar dijauhkan-Nya sifat yang manja.

Membentuk warna jiwanya.

Diantara lingkup manusia .

Diarena yang bau busuknya luka.

Bukakan mata pada dunia.

Lewatkan baja dalam hatinya.

Kalungkan tabah kala derita.

Kutahu dari air mata sujudmu.

Semoga Ia mendengarnya.

Dengarlah pinta kami sebagi anaknya

Lingkupilah ia dengan wangi surga.

Kesederhanaan Jerami

Friday, December 14th, 2007

Pagi ini terasa indah sekali…
Seperti saat kami terbangun dari atas jerami,
Ketika kami harus menjaga butir-butir padi,
Menyemai hasil yang kemalaman.
Melaksanakan titah dr imam Madrasah Kehidupan.
Enam tahun lalu,Berdua saja,cukup berdua.
Menyilangkan jemari kedua tangan,meletakkan dibawah kepala.
Merenung dipinggir pematang, berbaring pandangi rembulan.
Sambil berbagi tentang kehidupan,
Mencoba menggali makna hidup,
Untuk apa kita ada,
Untuk siapa kita hadir didunia,
Bahkan sampai kepada suatu tanya,
Siapa yang seharusnya kami tempatkan ditempat tertinggi dihati,
Adakah langit memberikan jawabnya?
Adakah dingin angin malam menyapu segala tanya?
Adakah lagu merdu alam saat ramai malam mampu hapuskan kegundahan?
Mencoba menemukan jawaban dari cahaya venus di ufuk timur,
Berusaha melempar tanya kpd kehangatan cahaya rembulan,
Membaca pergerakan bintang jatuh dari utara keselatan,
Setelah beberapa lama,
Tanpa terduga kesederhanaan pemikiran telah memberikan kami jawabnya.
Semua yang ada terasa menyuarakan solusinya.
Angin yang menggetarkan hijaunya dedaunan,
Kekhasan nyanyian katak,
Kemisteriusan nyanyian burung malam,
Nada merdu dari daun-daun pepadian yang bergesekan,
Menggoreskan nuansa kesederhanaan kehidupan.
Semua serasa taat kepada-Nya,semua memuji-Nya,semua tunduk berserah diri kepada-Nya,tak ada pengingkaran apalagi pemberontakan.
Memaksa hati kami untuk sukarela berjanji.
Berjanji bersama dengan janji alam semesta.
Janji yang akhirnya mendatangkan kebahagiaan hakiki kemudian hari.
Janji yang terbungkus kesederhanaan kejujuran hidup ini.
Janji yang terukir saat kami merasa tak mempunyai apa-apa dari cinderamata dunia ini.
Janji yang membuat kami merelakan ditempat kedua dari rasa cinta thdp dunia.
Janji untuk mencurahkan gerak jiwa raga pada Sang Pusat alam semesta.
Kesederhanaan jerami saksi  janji ini.
(untuk satu saudara di madrasah kehidupan,begitu rindunya saya untuk bisa tidur bersama lagi diatas jerami,betapa rindunya jiwa ini untuk bisa bercengkrama dgn buah hati yang engkau sayangi,semoga keluarga mas menjadi keluarga yang setia pada janji,keluarga yang mencurahkan geraknya pd Sang Pusat alam semesta hingga besarlah jiwa-jiwa yang ada didalamnya.Sy tak perlu meragukannya krn mas telah didampingi hawa yang setia jg pada janji kita.Doakan ya suatu saat adikmu bisa mendapatkan spt itu jg (ha-ha-ha nakalnya adikmu).Selmt Berjuang Yah!!!Untuk Sang Pusat dr segala dan almamater madrasah kita)

Gemuruh Hati

Friday, December 14th, 2007

Walau telah  terazzamkan untuk fokus pd masa depan,
Walau telah terlihat perubahan yang kita ciptakan,
Kampus masih menyisakan gaya hidup dari "kegelapan",
Membuat gemuruh hati ini berkobar lagi,
Kampus masih menggoda sensitivitas hati ini untuk kembali,
Kembali lagi membuat karya-karya nyata untuk merubah paradigma,
Kembali lg merelakan diri menjadi martil perubahan,
Dengan segala derita dan resiko berat yang harus diterima,
Agar mereka lebih mengerti akan eksistensi Sang Pencipta diri mereka,
Menghimpun kembali energi dari sebuah visi menuju lapis langit tertinggi,
Yang sungguh kusesali mengapa bisa mati,
Hanya karena memikirkan diri sendiri,
Hanya karena tercurahkan untuk mengurusi kecintaan duniawi,
Ku ingin sekali lagi,
Meneladani manisnya filosofi gula,
Tak terlihat tapi mampu memberikan rasa yang berbeda,
Semata-mata untuk menjaga kebersihan diri dari motivasi duniawi,
Totalitas seorang hamba yg mengharapkan ridho-Nya.